Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaLampungLampung Timur

Setelah Korban Jiwa Berjatuhan, TNI Turun Tangan dan Pagar Permanen Dibangun Atasi Konflik Gajah–Manusia Way Kambas

×

Setelah Korban Jiwa Berjatuhan, TNI Turun Tangan dan Pagar Permanen Dibangun Atasi Konflik Gajah–Manusia Way Kambas

Sebarkan artikel ini

RAJAWALI VISUAL (Lampung Timur) – Konflik panjang antara gajah Sumatera liar dan warga desa penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK) akhirnya mendapat penanganan serius setelah kembali menelan korban jiwa. Pemerintah kini menyiapkan pembangunan pagar permanen, disertai pelibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk menjaga keselamatan warga.

Rencana pembangunan pagar permanen sepanjang 60 hingga 70 kilometer di sepanjang batas kawasan TNWK dengan desa penyangga ditargetkan mulai dilaksanakan pada tahun 2026. Selama proses pembangunan berlangsung, personel TNI akan diterjunkan untuk membantu masyarakat menghalau gajah liar yang kerap masuk ke permukiman.

Example 325x300

Konflik gajah–manusia di Way Kambas telah berlangsung selama puluhan tahun dan terus berulang tanpa solusi tuntas. Dalam beberapa tahun terakhir, konflik ini tak hanya merusak lahan pertanian, tetapi juga merenggut nyawa manusia.

Peristiwa terbaru terjadi ketika Kepala Desa Braja Asri, Darusmas, tewas diserang gajah liar saat berupaya menghalau kawanan gajah yang masuk ke wilayah permukiman. Kejadian tersebut kembali menegaskan tingginya risiko yang dihadapi warga desa penyangga TNWK.

Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, mengatakan pembangunan pagar permanen menjadi langkah penting untuk mencegah pergerakan gajah keluar dari kawasan taman nasional dan melindungi keselamatan warga.

“Pagar ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang agar konflik tidak terus berulang dan tidak lagi memakan korban,” ujar Ela.

Pembangunan pagar dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kelayakan material, dampak lingkungan, serta keamanan satwa endemik. Saat ini, proyek tersebut telah memasuki tahap survei dan kajian teknis di lapangan.

Selain pembangunan infrastruktur, pemerintah juga melibatkan TNI guna menjaga kondusivitas wilayah desa penyangga. Panglima Kodam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, mengatakan personel TNI yang diterjunkan berasal dari Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan Labuhan Ratu.

Pelibatan TNI dilakukan sesuai ketentuan undang-undang tentang tugas perbantuan, dengan fokus membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat konflik satwa liar.

Pemerintah berharap, kolaborasi antara pembangunan pagar permanen dan pengamanan oleh TNI dapat menjadi titik balik penyelesaian konflik gajah–manusia di Way Kambas, yang selama ini menjadi luka panjang bagi warga desa penyangga. (*)