RAJAWALI VISUAL (Jakarta)— Di tengah meningkatnya ketegangan global yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, Universitas Sahid Jakarta melalui Sekolah Pascasarjana kembali menunjukkan perannya sebagai ruang strategis pengembangan pemikiran kritis. Melalui diskusi bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia?” yang digelar pada Jumat, 10 April 2026, USAHID menghadirkan pembacaan mendalam terhadap konflik modern yang tidak lagi semata berbasis kekuatan militer, tetapi juga perebutan energi, kekuasaan, dan konstruksi kebenaran global.
Forum yang berlangsung di Sahid Sudirman Residence ini menghadirkan tiga akademisi Program Doktor Ilmu Komunikasi yang mengulas konflik Iran–Amerika–Israel dari perspektif geopolitik, strategi militer, hingga komunikasi global berbasis teknologi dan kecerdasan buatan.
Kaprodi Doktoral Ilmu Komunikasi USAHID, Prasetya Yoga Santoso, menegaskan pentingnya peran akademisi dalam merespons dinamika global.
“Tugas seorang akademisi adalah hadir di titik paling panas persoalan zaman. Diskusi ini adalah tanggung jawab keilmuan kita sebagai bagian dari masyarakat global,” ujarnya.
Perebutan Energi di Jantung Geopolitik
Dalam pemaparannya, Fathurrahman Yahya menegaskan bahwa konflik yang terjadi bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari konstruksi geopolitik jangka panjang sejak berakhirnya Perang Dingin.
“Ini perang untuk menentukan siapa yang menguasai jantung energi dunia. AS mendukung Israel dan menekan Iran karena kombinasi tiga kepentingan: energi, keamanan, dan geopolitik,” katanya.
Ia menyoroti posisi strategis Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi energi global yang menjadi titik krusial dalam perebutan kepentingan dunia.
Iran Diprediksi Tidak Runtuh
Pandangan berikutnya disampaikan oleh Didin Nasirudin yang menilai bahwa tekanan besar tidak akan serta-merta menjatuhkan Iran.
“Endgame yang paling mungkin adalah gencatan senjata tanpa pemenang mutlak. Iran melemah, tapi tidak hancur. Selat Hormuz dibuka kembali dengan aturan main baru,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa strategi perang asimetris melalui penggunaan drone dan jaringan proxy menjadi faktor penting dalam menjaga daya tahan Iran di tengah tekanan global.
Algoritma dan AI: Medan Tempur Baru
Sementara itu, Henry Sianipar menyoroti dimensi baru dalam konflik global yang kini merambah ruang digital dan persepsi publik.
“Kita sudah berada di era Perang Permanen Multi-Dimensi. AI adalah pembentuk realitas,” tegasnya.
Menurutnya, perang modern kini berlangsung dalam berbagai lapisan—fisik, kognitif, hingga epistemologis—di mana algoritma dan kecerdasan buatan memainkan peran penting dalam membentuk opini dan menentukan kebenaran.
Peran Strategis Akademisi di Era Disrupsi
Diskusi ini menjadi bagian dari komitmen USAHID dalam menghadirkan ruang dialog ilmiah yang responsif terhadap dinamika global. Program Doktor Ilmu Komunikasi USAHID berperan dalam membentuk akademisi yang mampu memahami komunikasi sebagai arena produksi makna dan kekuasaan.
Di tengah era ketika kebenaran tidak lagi hanya ditentukan oleh fakta, melainkan juga oleh algoritma dan media, literasi komunikasi dan kecerdasan strategis menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan perang modern berbasis teknologi. (*)










