Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
Ragam

Pakar Unila Nilai RDMP Balikpapan Jadi Tonggak Ketahanan Energi dan Penjaga APBN

×

Pakar Unila Nilai RDMP Balikpapan Jadi Tonggak Ketahanan Energi dan Penjaga APBN

Sebarkan artikel ini

RAJAWALI VISUAL (Bandar Lampung) – Pakar Ekonomi Universitas Lampung, Tiara Nirmala, menilai penyelesaian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan menjadi tonggak penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.

Menurut Tiara, pengembangan kilang tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri, tetapi juga mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Example 325x300

“Kebijakan stop impor BBM ini adalah kebijakan yang sangat baik dan strategis, terutama untuk menjaga APBN. Selama ini pengeluaran negara untuk impor BBM membuat ruang fiskal kita sangat terbatas,” ujar Tiara dalam diskusi bertema Langkah Nyata Swasembada Energi Nasional: Stop Impor BBM di Bandar Lampung, Jumat (23/1/2026).

 

Ia menjelaskan, impor BBM selama bertahun-tahun menjadi salah satu beban terbesar dalam struktur belanja negara. Ketika kebutuhan energi domestik belum sepenuhnya terpenuhi oleh produksi nasional, pemerintah terpaksa mengalokasikan anggaran besar untuk impor dan subsidi.

“Dengan RDMP Balikpapan, kita mulai menghentikan impor solar dan ini berpotensi menghemat anggaran negara hingga puluhan triliun rupiah per tahun. Penghematan ini bisa dialihkan ke sektor strategis lain seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan,” kata Tiara.

 

Selain berdampak pada penghematan anggaran, Tiara menilai RDMP Balikpapan juga berkontribusi terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Selama ini, impor BBM dibayar menggunakan dolar Amerika Serikat sehingga setiap pelemahan rupiah otomatis meningkatkan beban keuangan negara.

“Ketika rupiah terdepresiasi, biaya impor BBM langsung melonjak. Dengan mengurangi impor, tekanan terhadap nilai tukar bisa ditekan dan stabilitas ekonomi menjadi lebih terjaga,” ujarnya.

 

Dari sisi ketahanan energi, Tiara menyebut peningkatan kapasitas produksi kilang dalam negeri memberikan perlindungan tambahan dari risiko gangguan pasokan akibat konflik geopolitik global.

 

Sementara itu, Pakar Energi Institut Teknologi Sumatera (Itera), Rishal Asri, menilai RDMP Balikpapan merupakan instrumen penting untuk meningkatkan kemandirian energi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian pasokan global.

“Dengan peningkatan kapasitas kilang melalui RDMP Balikpapan, tingkat kemandirian energi Indonesia berpotensi naik signifikan. Dari sebelumnya sekitar 60 persen, kini bisa mendekati 80 hingga 85 persen,” ujar Rishal.

 

Menurutnya, peningkatan tersebut memberikan ruang yang lebih aman bagi Indonesia dalam menghadapi gejolak geopolitik internasional yang kerap memicu fluktuasi harga minyak dunia.

“RDMP ini memberi bantalan bagi perekonomian nasional. Ketika harga minyak dunia bergejolak, dampaknya tidak langsung menghantam Indonesia karena sebagian besar kebutuhan sudah dipenuhi dari dalam negeri,” kata dia.

Meski demikian, Rishal mengingatkan peningkatan kapasitas produksi harus diimbangi dengan perbaikan sistem distribusi agar manfaat RDMP benar-benar dirasakan merata di seluruh wilayah Indonesia.

“Secara kapasitas, produksi kita semakin kuat. Tantangan ke depan adalah memastikan distribusi BBM berjalan merata agar ketahanan energi ini tidak hanya terlihat di angka, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat,” ucapnya.

Pakar Pemerintahan dan Kebijakan Publik Universitas Lampung, Robi Cahyadi Kurniawan, menambahkan bahwa keberhasilan RDMP Balikpapan perlu diikuti dengan tata kelola kebijakan yang konsisten.

“Arah kebijakan energi nasional sebenarnya sudah cukup jelas. Tantangannya ada pada konsistensi implementasi, pendanaan, dan evaluasi kebijakan agar proyek seperti RDMP benar-benar memberi manfaat jangka panjang,” ujar Robi.

Menurut Robi, stabilitas energi yang dihasilkan dari RDMP Balikpapan akan menjadi fondasi penting bagi stabilitas ekonomi nasional. Namun tanpa perbaikan distribusi, kebijakan subsidi yang tepat sasaran, serta koordinasi yang kuat antara pusat dan daerah, potensi besar RDMP tidak akan sepenuhnya optimal.

Dengan meningkatnya kapasitas dan kualitas kilang melalui RDMP Balikpapan, para pakar sepakat Indonesia berada di jalur yang lebih kuat menuju ketahanan energi nasional, sekaligus memiliki penyangga ekonomi yang lebih kokoh di tengah ketidakpastian global. (*)